“SIMPATI” UNTUK NEGERI INI

Orang orang berlarian kesana kesini untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya tetapi apa daya hak yang kuasa tidak memberi mereka kesempatan.

Belakangan ini banyak kejadian yang tak diperkirakan oleh semuanya, mulai gempa, tsunami, gunung gunung erupsi. Apakah ini sebuah teguran dari tuhan? Tidak ada yang tahu.

Belum lama ada berita akan adanya ” pesta LGBT atau semacamnya “.

Negeri ini sudah di tegur, mendapat cobaan yang penuh derita tolong jangan ditambah lagi, indonesia sedang di uji lantaran rakyatnya yang tidak henti hentinya “berdebat”. Siapakah yang patut disalahkan? Pemimpin atau rakyatnya?. Sepertinya keduanya tak salah hanya perlu di “perbaiki”.

Indonesia adalah negara berkembang yang menurut saya negara yang baik untuk di contoh karna adanya “pancasila” tetapi kekesalan itu timbul seketika karna masih ada yang tidak mengerti apa itu pancasila, mereka hanya memahami tidak peduli dengan isinya kaidahnya, ini lah yang harus dipersoalkan.

Selain krisis ekonomi, negeri ini krisis keadilan, kemakmuran, dan krisis “manusia baik”. Belum lama desas desus akan adanya “PESTA LGBT” entah itu dimana saya tidak bisa menjelaskan. Kenapa diperbolehkan dinegeri ini kaum seperti itu kenapa tidak dimusnahkan? Yap harusnya dimusnahkan! Tetapi mereka bisa menjadi aset negara. Aset? Aset itu yang menguntungkan negara dan sesuai dengan undang undang. Kalau kaum seperti itu sudah mencoreng pancasila, jika tetap dilakukan pancasila sebagai dasar negara tidak lagi berpengaruh dinegeri ini, yang ada negeri ini berubah menjadi liberalis.

“Kemana pemimpin? Kenapa pemimpin negeri ini tidak melarang yang seperti itu?” Entahlah.

Berkaitan dengan LGBT, politik negeri ini semakin membara permainan politik semakin tajam, saling menjatuhkan hanya untuk kursi kepemimpinan seakan akan siapa yang menduduki kursi itu dialah penguasa.

Pemimpin adalah orang yang mengemban tugas dan tanggung jawab untuk memimpin dan bisa mempengaruhi orang yang dipimpinnya.

Artinya bukan hanya memimpin tetapi juga ikut ambil bagian dalam menyejahterakan rakyat.

Guyonanpun muncul seperti “ganti rakyat atau ganti pemimpin”.

Baik rakyat atau pemimpin jika salah pasti salah tidak ada yang diagung agungkan, jangan terus terus menyalahkan pemimpin dan sebaliknya jangan terus terus menyalahkan rakyat TETAPI yang harusnya diubah itu pikiran. Percuma jika berorasi menyalahkan 1 pihak tetapi pikiran “aktor” tersebut tidak cerdas.

Jadi siapa yang harus disalahkan? Pemimpin atau rakyat? Atau pancasila yang sudah tidak melekat lagi di negeri ini? Saya yakin masing masing punya pendapat yang berbeda, negeri ini butuh doa agar utuh kembali dan jangan mau dimainkan oleh peran “era globalisasi”.

Jangan buat negeri ini menjadi liberalis hanya untuk kepentingan negara tetapi jadikan negeri ini sebagai pedoman negara lain karna pancasila

#bersatunegeriinikuat

Iklan

Menjaga dan memaknai Ideologi “Pancasila”

Pancasila adalah dasar negara, dan menjadi sumber inspirasi perjuangan, penggerak bagi masyarakat Indonesia di dalam bernegara. Pancasila tidak sekedar konstitusional sebagai syarat sah berdirinya sebuah negara, tetapi lebih dari itu, Pancasila haruslah benar-benar menjadi pandangan hidup di kalangan masyarakat, yang merekatkan seluruh keragaman yang pada saat ini rentan tercoreng, dimana ada ormas ormas yang tidak lagi menganggap Pancasila sebagai ideologi. Oleh karenanya kita harus memaknai Pancasila dalam konteks sejarah kemerdekaan.

Pancasila adalah ideologi revolusioner, ideologi yang tidak mau terhadap segala bentuk penindasan dan penjajahan. Sebuah ideologi perlawanan terhadap segala hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan.

Kemerdekaan melahirkan negara indonesia itu ada didalam pancasila. “Pancasila” suatu gagasan yang maknanya mencakup semua aturan hak dan kewenangan.

Masyarakat harusnya mengerti apa itu pancasila bukan sekedar semata mata dipahami atau sekedar dihafalkan tetapi seharusnya memahami konteks inti dari kelima isi pancasila. Pancasila itu bukanlah slogan semata tetapi dasar sebuah negara, cita cita dan petunjuk bagaimana perjuangan diarahkan dan dilakukan oleh masyarakat.

Saat ini memang bentuk penjajahan semakin sulit terlihat dengan kasat mata, mudahnya mengakses informasi pada saat ini harus kita antisipasi agar kedaulatan bangsa kita dapat dijaga. Tidaklah mungkin cita-cita masyarakat adil dan makmur itu dapat terwujud bila kedaulatan bangsa tidak ditegakan.Oleh karenanya kita harus setia pada perjuangan dan kedaulatan bangsa meneruskan perjuangan kemerdekaan dan menjaga kedaulatan bangsa.

Mengutip dari perkataan presiden “Kita beruntung mempunyai Indonesia yang berbhineka tunggal ika, Indonesia yang beragam, tapi bisa menjaga toleransi dan kebhinekaan”.

Negara ini sudah goyah, dimana kedaulatan berbangsa dan kesatuan sedang diuji, yang mana toleransi sudah hampir punah demi kepentingan diri sendiri, keadilan pun tidak ditegakkan dengan adil. Dengan menegakkan pancasila seharusnya indonesia menjadi referensi negara lain. Dan itu bisa terjadi karena Indonesia mempunyai Pancasila.

Selamat hari kesaktian pancasila, – Indonesia harus menjadi cerminan bangsa lain, indonesia bagi saya adalah negara yang mempunyai semua referensi dari berbagai negara yang dijadikan 1 yaitu pancasila, sayangnya sekarang pancasila hanya sebuah hafalan semata bukan sebagai pedoman berbangsa, jika masyarakat menginginkan negara ini adil tolong pahami inti pancasila.

– 17 tahun, pelajar

TAHUN POLITIK DAN POSISI RAKYAT

Rakyat dan politik itu beriringan, tidak akan terpisahkan bahkan menghindar pun tidak bisa, kenapa? Karna ini negara politik (hukum). Banyak orasi dari rakyat tapi hanya semeta meta sepucuk surat kabar yang dibaca pembacanya dah disimpan begitu saja

Rakyat sekarang berada dilevel paling bawah, yg seharusnya mempunyai kekuasaan tertinggi dinegeri yg disebut negara demokrasi.

Pemerintahan selalu mendeklarasikan “jika ada pendapat katakan!” Tetapi itu hanya angin lewat saja hanya untuk menenangkan hati rakyat yg membara akibat ulah “wakilnya”. Partisipasi bertujuan mendorong aktif kegiatan demokrasi untuk semua proses kepemiluan. Kepentingan fokus partisipasi menjadi indikator peningkatan kualitas demokrasi dan kehidupan politik bangsa.

Oleh karena itu, partisipasi politik masyarakat, baik dalam bentuk formal maupun ekstra formal dalam ikut serta mengawasi atau memantau jalannya penyelenggaraan pemilu, jangan dipandang sebelah mata. Karena, eksistensinya dapat mencegah tindakan-tindakan kontrademokrasi yang dapat mengoyak dan mendegradasi loyalitas rakyat terhadap sistem demokrasi di Indonesia

Menjelang Pilpres 2019, suhu politik di Indonesia mulai panas. Para politisi mulai ramai mengeluarkan pernyataan pedas untuk mengekspresikan sikap politiknya. Perang mulut antarpolitikus terasa semakin vulgar.

Bahkan pernyataan yg keluar itu berbuntut saling balas dan sindir. Adu mulut antarpolitikus bukan hal baru di percaturan politik Indonesia. Media massa menjadi ring tinju bagi mereka. disinilah peran rakyat dipertaruhkan untuk memilih pemimpin baru atau bertahan dengan pemimpin sebelumnya.

Kenapa bisa begitu? Karena sesungguhnya yg sedang terjadi bukan prinsip perubahan sosial dalam konteks masyarakat. Yg terjadi sesungguhnya hanyalah barter, atau hadiah, atau lebih pas lagi, “permen untuk membungkam representasi dari masyarakat sipil” sebagai hadiah atas energi dan upayanya dalam membantu memenangkan kandidat. Itu berlaku untuk siapa pun yg kelak memenangi kekuasaan.

Karena pada dasarnya secara umum, gerakan masyarakat di Indonesia semakin lemah. Tidak punya nilai elektabilitas dalam kegiatan politiknya. Masyarakat tidak dianggap eksis dan berdaya oleh para kaum elite, “kita hanyalah sebuah rumah yg ditinggal pemiliknya mudik liburan

Menuntut keadilan menolak Pembodohan dan bersama rakyat memberi bukti

Penulis; hanya seorang pelajar yg berharap kelak merubah negeri ini.

Ini hanya pendapat “ideologi” – bagian 2

Saat ini orang orang hanya memikirkan egonya, politis hanya berlaku adil demi kepentingan pribadinya. Rakyat terluntang lantung demi mengais kehidupan sedangkan yang harusny “mewakili” rakyat mereka hanya menikmati hasil dari rakyat.

Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”

Dimana hakikat rakyat yang seharusnya diterima adil? Disembunyikan? Atau pura pura tuli, buta? Dan gagu?

Dimana rakyat bisa mendapatkan keadilan? Terlalu banyak janji yang diumbar tetapi tidak ditepatkan.

Kampanye! Janji yang dibuat “sebutir kata kata indah tetapi mempunyai selisih makna tersendiri”

Apa gunanya partai politik? Menghasut? Atau menepati janji? Atau mensejahterakan rakyat? Hanya 40% janji dari sebuah politis partai yang menepati janjinya.

Rakyat hanya berharap hidupnya makmur penuh keadilan, undang undang dinegeri ini hanya berlaku untuk rakyat level rendah, rakyat level berpangkat tidak akan berpengaruh.

Contohnya sudah diketahui yaitu koruptor. Banyak pertanyaan kenapa koruptor hanya divonis sebentar sedangkan nenek mencuri sebongkah kayu divonis 5 tahun penjara. Dimana letak ideologi kalian!

Negeri ini butuh keadilan dan negeri ini butuh orang orang jujur. Seseorang berkata “1001 orang di negeri ini hanya 1 yang berbuat jujur.” Kami tidak butuh banyak orang pintar, cukup orang jujur untuk melestarikan negeri ini, negeri ini semakin tua kalau kalian hanya memikirkan ideologi kalian mau jadi apa negeri ini nanti.

Menurut survei 2019 indonesia akan dilanda kekeringan dan 2019 juga indonesia akan terjadi perang saudara kenapa perang? 2019 akan terjadinya pemilu terbesar yang akan banyak perjuangan ekstrensik. Jangan hanya 1 orang negeri ini terbagi 2.

Stop rasisme dan stop ujaran kebencian.

Saya pelajar smk hanya mengutarakan persepsinya dari apa yang selama ini terjadi.

Politik itu kejam sekali anda masuk anda tidak akan dapat keluar dengan mudah.

Politik : Seni.

“Politik itu adalah seni.” Tergantung aktornya bagaimana dia menempatkan dirinya diposisi mana. Seni mempunyai karakteristik yg berbeda masing masing ada sisi baik atau pun sebaliknya. Politik dan seni, ini kata yang harusnya mempunyai persepsi yang berbeda tapi 2 kata tersebut tidak berlaku lagi melainkan penggabungan 2 kata tersebut “politik seni”.

Sekarang pertanyaannya adalah ada korelasi apakah antara politik dan seni?

Saya selaku penulis menganalogikan politik layaknya seni karna didalam seni tersebut terdapat dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Oh bukan melainkan sisi baik dan sisi kejam.
Koalisi mudah dibongkar pasang. Sekarang sudah tidak lagi dikenal segmentasi kubu nasionalis, agamis dan sebagainya, layaknya pada masa orde baru. Positif? Entahlah.
Kesejahteraan rakyat masih belum makmur tetapi partai politik semakin menjamur.”

Jadi apa yang ingin dikejar oleh sebuah politik? Kursi kepemimpinan? Kesejahteraan? Ideologi pribadi? Entahlah. Tidak ada larangan berpolitik di negeri ini, karena politik yang sebenarnya adalah kegiatan yang sangat mulia untuk mensejahterakan kelompok yang besar, yakni rakyat.

Tapi apa slogan “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat”. Masih berlaku?. Sepertinya untuk saat ini slogan tersebut hanya debu yang ditiup angin yang menyisakan butiran untuk meyakinkan kalau debu tersebut sudah hilang.

Belakangan banyak pertanyaan “kenapa politik dinegeri ini bersifat transaparan?”. Ya indonesia dengan politik yang sangat amat transaparan sampai tidak tahu akan kemana arahnya.

Anggap saja contoh. Belakangan ada seorang tokoh yang disiram oleh air keras beliau terluka dan terekam cctv tapi mengapa 1 tahun lebih tidak terungkap siapa pelakunya? Inilah seni politik dimana tingkat kekuasaan penuh dikendalikan oleh 1 orang penguasa. Hasil inilah mengapa politik sangat dibenci, mereka hanya berpihak oleh 1 punya kuasa tertinggi tidak memikirkan yang dibawah.

Politik bukan untuk dibenci, malah politik itu harus dipelajari. Banyak ilmu yang akan didapatkan jika ingin belajar mengenai politik, bisa ilmu positif, dan bisa juga ilmu negatif. Tergantung siapa yang mengajari dan bagaimana menangkap pelajaran tersebut. Karena sejatinya politik itu bukan suatu hal yang buruk, tetapi dengan politik lah kita dapat mengubah sesuatu menjadi baik.

1+1 belum tentu hasilnya 2, Inilah gaya politik.
Bagaimanapun politik harus keluar dari lingkaran setan penuh lobbying, penuh intrik dan penuh teka teki?

Jika kembali kepada makna, politik itu memanglah sebuah alat untuk mencapai kekuasaan. Tetapi, jikalau dipandang dari sudut teori klasik, politik itu sebenarnya adalah suatu hal untuk mencapai kebaikan bersama. Jadi berpolitik hanya untuk menggapai kekuasaan, lalu selesai karena dianggap sebagai target.

2019 indonesia akan dijajah oleh kejamnya politik dimana semua hal akan dihalalkan demi kepentingan suatu koalisi. Apakah demokrasi itu terlalu bebas sehingga menjamur sekali partai politik dengan berbagai sudut pandang baru? sepertinya tidak.

Kita harus mengubah persepsi masyarakat yang selalu memandang politik itu penuh dengan kerja kotor dalam arti licik, penuh intrik, menjadi politik yang nantinya akan dipandang indah karena menyejahterakan rakyatnya bukan menginjak rakyatnya.

Karena sejatinya rakyat tidak memerlukan janji politis, tetapi rakyat berharap semua pejabat dan politikus selalu ada untuknya.
Indonesia saat ini darurat kerja sama. Kerja sama dalam artian jika rakyat membutuhkan pemerintahnya, karena rakyat tidak ingin melihat pemimpinnya terbudak oleh koalisi partai, tetapi rakyat ingin melihat pemerintahnya itu ibarat garis lingkaran yang akan selalu menjaga rakyat yang ada di dalamnya.
Jika politik memanglah seni, berarti kegiatan berpolitik patut untuk dihargai. Politik itu dasarnya baik. Jika berjalan dengan tidak baik, jangan salahkan kegiatan berpolitiknya, tetapi salahkan oknum politikusnya.

Dari seorang pelajar smk yang “hanya” mengekspresikan ideologinya tentang politik – rakyat

Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik – berthold brecht (1898 – 1956), seorang penyair jerman

Ini hanya pendapat ” ideologi? ” – Bagian 1

Apakah “kegaduhan politik” akan terus terlaksana? Setiap orang mempunyai persepsi yg berbeda dari hal kecil sampai yang menohok.

Bergagai factor yang dapat melahirkan dan mengembangkan persepsi dan tingka laku yang tidak wajar dan kurang sehat tentang ideologi, baik secara fundamental atau non fundamental. Banyak pertanyaan kenapa hal yang nyata dapat dibuat hilang sedangkan hal yang hilang dibuat nyata? Apakah itu ideologi yg normatif atau hanya khilaf semata? Dimana letak tanggung jawab seseorang yang sepatutnya dipertanggung jawabkan! Jadi siapa yang harusnya disalahkan? Ibaratnya yang kecil hanya boneka yang dijadikan mainan yang kalau rusak bisa perbaiki sedangkan pemiliknya bebas berbuat apapun karna apa? Karna pemiliknya selalu dapat berbuat apapun kepada bonekanya dia dengan mudah merusak, dan memperbaiki hanya dengan berlembar lembar kertas dia dapat melakukan apapun yang dia mau.

Jadi pertanyaannya, kapan kalian akan membuang ideologi kalian?

Setiap konsep ideologi selalu memitoskan suatu ajaran yang secara optimik dan deterministik pasti akan menjamin tercapainya tujuan melalui cara yang telah ditentukan pula.

Jadi pertanyaannya ” siapa yang harus disalahkan? “